Setiap kali melewatkan tiga ratus enam puluh lima hari, kita akan menjumpai tanggal 31 desember. Tanggal yang sakral, bisa dikatakan sebagai akhir bulan ataupun akhir tahun. Pada tanggal ini atau sekiranya lima hari sebelum tanggal ini, disetiap sudut kota sudah lumayan banyak penjual benda-benda dadakan seperti petasan, kembang api, terompet, atau bahkan bandana dan tongkat yang menyala-nyala sekedar untuk memeriahkan acara menyambut "tahun baru masehi" yang biasanya diadakan besar-besaran. Konon seluruh negara di dunia merayakannya, walaupun tidak semua orang ikut merayakannya, tapi mereka senang untuk memeriahkannya.
Aku tinggal disebuah flat sederhana di daerah Cimahi, disini terdapat sembilan rumah "mini" yang didalamnya hanya terdiri dari sebuah kamar tidur, sebuah kamar mandi, dapur kecil dan ruang tamu merangkap ruang keluarga. Tiap penyewa menata setiap inci rumah mereka dengan senyaman-nyamannya. Suatu pagi yang mendung di tanggal 31 desember, tetanggaku menawarkan untuk bergabung dalam acara malam tahun baru-an. Rencananya akan diadakan acara masak dan makan bersama, kami menyebutnya "ngeliwet". Menunya cukup sederhana, terdiri dari nasi liwet yaitu beras yang dimasak menggunakan rempah-rempah, yang nanti akan disediakan bersama daging ayam atau ikan bakar, lalu sayuran seperti buncis, kangkung atau labuh, sambal terasi dan biasanya yang menjadi primadona dalam acara ini adalah sebuah sayur khas negeriku yang beraroma menyengat yaitu jengkol dan semua makanan itu disediakan pada lembaran-lembaran daun pisang dilantai. Sebenarnya jika kalian pernah mencicipi jamur khas Jepang "shintake", harum dan rasanya tidak jauh berbeda dengan "jengki" yang menjadi andalan kita.
Teringat percakapanku dengan suamiku tadi malam, kami akan pergi menikmati kembang api di kota Bandung malam ini, tapi - ada tapi nya - jika ia tidak lembur. Menimbang-nimbang ajakan tetanggaku itu, akupun setuju untuk ikut, sekedar berkumpul sesama penghuni flat lain, mengakrabkan diri. Lagipula biasanya suamiku itu selalu lembur di akhir bulan, kemungkinan untuk pergi jalan-jalan berdua sangatlah tipis.
Percakapan dengan tetangga tadi pagi berlanjut pada sore hari, tiap penghuni flat diwajibkan untuk mengumpulkan sejumlah uang dan segelas beras. Dua orang dari kami pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakkan, sedangkan aku dan salah satu dari mereka mengambil daun pisang. Setelah itu, aku mendapatkan tugas menghangatkan daun-daun itu diatas kompor dengan api kecil agar layu. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul enam lebih tiga puluh menit, dua orang yang bertugas pergi ke pasar datang membawa beberapa kantung plastik, jelas mereka baru saja berbelanja. Para ibu-ibu dari tiap flat datang berkumpul di salah satu flat untuk mulai memasak, walau tidak semua hadir tetapi terdengar canda dan tawa dari arah sana. Berniat untuk ikut bergabung, aku segera mengenakan sweeter kuning yang tergantung disamping pintu. Namun niatkupun berubah, saat handphone ku berbunyi.
Mendapati pesan dari suamiku, akupun bergegas bersiap-siap untuk berangkat, pasti ia sudah dekat rumah. Segera mengenakan salah satu pakaian terbaikku, memoleskan bedak di wajah dan lip-gloss natural dibibirku, tiba-tiba saja suamiku sudah datang. Sambil bersiap-siap, aku menceritakan rencana para penghuni flat yang lain malam itu, tapi suamiku bersikeras untuk pergi, mengingat kemarin malam aku yang memaksanya untuk jalan-jalan dan kalau bisa kami akan menonton film "The Hobbit" seri dua yang baru saja tayang di bioskop. Kami sangat penasaran mendapati film sebelumnya yang berakhir dengan kata bersambung dan harus setahun untuk menunggu kelanjutannya tayang.
Sebelum berangkat, aku menyerahkan daun pisang yang sudah layu kepada ibu-ibu yang sedang berkumpul, mereka terlihat agak kecewa mendapati aku dan suamiku tidak akan ikut bergabung.
Perjalanan menuju Bandung berjalan dengan lancar walaupun bisa diakui disepanjang jalan banyak orang-orang yang berada diluar rumah dan jumlah kendaraan di jalan meningkat. Kami hanya terjebak kemacetan dibeberapa pemberhentian lampu merah dan saat melewati pasar malam. Pemandangan pasar tidak seperti biasanya yang menjual beraneka ragam sayur dan buah, kali ini pasar menyuguhkan tiga macam dagangan, yaitu daging ayam, jagung manis dan trompet. Kami menuju sebuah mall tertua di kota itu, Bandung Indah Plaza - atau lebih dikenal dengan BIP.
Di luar gedung tercipta atmosfer positif yang menyenangkan, lautan manusia dan motor - bisa dikatakan begitu - memadati trotoar dan jalan utama. Sementara di dalam gedung berbanding terbalik, hampir semua toko disana sudah tutup, keadaan disana gelap hanya diterangi beberapa lampu kecil diatap, sia-sia saja berdandan kalau begitu.
Melangkah menaiki tangga berjalan otomatis menuju lantai paling atas, kami hanya ditemani sepasang kekasih yang mengobrol sambil mengikuti langkah kami, mereka pasti mau nonton juga. Sesampainya di bioskop XXI yang sudah diprediksi "sepi", kami melihat layar televisi dibelakang mba-mba penjual tiket, "ada!". Untung saja kami datang tepat pada waktunya, film yang ingin kami tonton akan segera diputar sepuluh menit lagi di salah satu studio bioskop tersebut, asiiikk jadi deh nonton, batinku girang. Saat akan memesan tiket, kursi di bagian belakang sudah penuh, kecuali deret paling depan pertama dan kedua, menonggak selama dua jam setengah bukanlah pilihan yang tepat untuk menikmati film yang bagus. Lama menimbang-nimbang antara jadi memesan tiket atau tidak, dan tatapan tak sabar dua kekasih yang dari tadi berada di belakang membuatku semakin putus asa.
"Ini ada dua kursi di atas, mau?" tanya si mba dengan sabar.
"Ya, boleh," jawabku melihat tidak ada lagi pilihan lain yang lebih baik, kursi di deretan paling atas kedua mungkin tidak begitu buruk.
Setelah membeli popcorn ukuran sedang dan minuman botol, kami segera bergegas memasuki studio dan "Lah?" sedikit tersirat kekecewaan, studionya lebih kecil dari studio-studio yang pernah ku kunjungi sebelumnya, di tempat kelahiranku Bogor. Disini hanya ada tiga belas kursi tiap deretnya dan hanya terdapat huruf A sampai J saja - kalau tidak salah lihat - sebab pihak bioskop sudah meredupkan lampunya disaat kami masuk dan mencari nomor kursi sesuai yang tertera di karcis. Bersyukur mendapati kursi keberuntungan, kamipun segera duduk dan "Lah?" kursinya sempit.
Sebelum film dimulai, aku berbisik - mengoceh kepada suamiku yang duduk disamping. "Tempatnya kecil, layarnya juga, kursinya sempit, minuman botolnya mahal harganya dua kali lipat, bla bla bla..." tapi suamiku hanya berkomentar "Hhmm" yang artinya "Sudah diam, duduk manis, filmnya akan segera dimulai."
Ketika film dimulai, kami terhipnotis dengan adean-adegan seru yang ditampilkan, sampai lupa sudah membeli cemilan yang harganya berlipat-lipat karna pajak. Dua jam setengah berlalu tanpa disadari akhirnya film pun selesai, berakhir seperti film sebelumnya. Giliran suamiku sekarang yang mengoceh saat mendapati filmnya masih belum tamat.
Keluar dari bioskop menuju pintu gedung dilantai bawah, kami mendapati tangga berjalan otomatis berubah menjadi tangga manual. Entah sudah berapa banyak anak tangga yang kami turuni hingga tidak ada kata yang terucap saking lelahnya. Kekecewaanpun semakin menjadi-jadi saat pintu gedung sudah tertutup rapat, terkunci dan seorang satpam - penjaga gedung - menunjukkan jalan keluar yang lain yaitu melalui tempat parkir di bawah. Kesalahan kami, memarkirkan motor diluar gedung, awalnya agar mudah keluar.
Berjalan menyelusuri parkiran, kami keluar melalui lorong tempat mobil dan motor berseliweran keluar dari sana dan saat berada diluar hanya satu kata yang terucap, "Kok sepi?". Suasana trotoar dan jalan utama tidak seramai sebelum kami memasuki gedung, tidak ada lagi suara terompet atau letusan-letusan kembang api, atau suara bising klakson kendaraan yang kesal karna macet. Jalan basah, sepertinya tadi sempat hujan.
Hampir pukul satu sekarang, kami bergegas pulang. Sama halnya, sepanjang perjalanan pulang begitu lancar tanpa hambatan, bahkan lampu merahpun tak ada gunanya. Kami sempat mendapati beberapa anak muda yang mabuk dijalan, malah ada motor yang entah mengapa terperosok diselokan kecil dipinggir jalan yang lebar dan kosong, dan ada juga yang menabrak dipembatas jalan, mereka mabuk berat. Mencoreng makna tahun baru yang seharusnya di isi dengan harapan-harapan baik, menuju pribadi yang lebih baik.
Sesampainya di depan gerbang, kami terkejut mendapati gerbang sudah digembok, entah kebetulan atau sengaja? tapi biasanya jika ada penghuni flat yang belum pulang, maka gerbang belum akan di gembok. Mengingat acara malam tahun baru-an yang dirayakan di tempat ini, para penghuni flat pasti belum tidur. Akupun segera menghubungi salah satu tetangga yang paling dekat dengan gerbang untuk membantu kami membukakan gembok, akhirnya gerbangpun terbuka. Setelah si tetangga menggembok kembali gerbang, ia memberikan dua piring plastik berisikan nasi liwet dan makanan lainnya, mungkin ini jatah untuk kami karna ikut mengumpulkan uang dan beras tadi sore.
Sesampainya di flat, aku segera merebahkan tubuhku dikasur, mataku sudah hampir terpejam saat berada dalam perjalanan pulang tadi. Yaa tidak ada yang membuatku berkata "Wow" pada malam pergantian tahun kali ini, tidak mendapati indahnya kembang api yang meriah dan bunyi tiupan terompet masal yang bersautan. Hanya mendapati film keren yang berakhir dengan kata bersambung dan berharap di tahun ini akan tayang sequel berikutnya dan berakhir dengan tulisan tamat.
Yonaechan
Rabu, 01 Januari 2014
Minggu, 29 Desember 2013
Gagap Teknologi *GapTek*
Horree tralala trilili betapa gembiranya saat berhasil mencoba membuat alamat e-mail baru dan berhasil dengan mudah *hehe*, dalam alamat e-mail yang sebelumnya mungkin sudah berapa puluh atau bahkan ratusan kiriman yang terabaikan, dikarenakan "kecerdasan" ku yang luar biasa dalam mengingat hal, sampai-sampai aku melupakan kata sandi untuk membukanya. Pada akhirnya, kini - setelah kurang lebih tujuh tahun berlalu - I have it again, "Yes!"
Berawal dari kebaikkan suamiku, yang membelikan paket internet dengan bonus gratis internetan sepuasnya sampai akhir januari, itu berarti sebulan dari hari pembelian dan pengaktifan kartu perdana. Kemudian aku berfikir untuk memanfaatkan modem ini, bukan hanya untuk membuka situs sosial media, lebih dari sekedar itu, tapi apa?
Suamiku berpendapat, "Berkaryalah, wujudkan cita-cita lamamu yang ingin menjadi seorang penulis."
Tidak dapat ku pungkiri memang besar sekali peran suamiku yang selalu memberikan ide-ide cemerlang nya, selain bagaimana ia selalu saja mengkritik masakkanku pada awal usia pernikahan kami. Yaahh pada dasarnya aku memang bukan tukang masak yang handal, mengaku.
Membuka sebuah buku novel hadiah ibu ku beberapa waktu lalu, pada lembar terakhir buku tersebut tercetak bagaimana cara mewujudkan impian ku yang sempat tertunda. Mengirimkan naskah kepada sebuah penerbit yang mungkin saja ada harapan akan diterbitkan oleh mereka, semoga saja.
Mengawali aktifitasku di depan "lenov" - nama panggilan untuk notebook ku - terkadang kita harus memberikan nama untuk beberapa benda. Berniat memulai membuat alamat e-mail baru, akupun membuka situs gmail.com dan mulai mengisi beberapa kolom yang ada dengan beberapa pertanyaan dasar yang biasanya tertera di KTP. Setelah selesai mengunggah foto, "taraaaa" berhasil, gambar sepasang kekasih tertempel nyengir sebagai foto profil. Ini pekerjaan yang sangat mudah, batinku. Sampai kemudian aku sadari, tampilannya membuatku bingung, nah lalu bagaimana cara mengirim e-mail ?
Mengutak atik begitu lama, akhirnya akupun menyerah. Membuka salah satu media sosial ku dan bertanya pada sahabat ku @Ria N Badaria yang - biasanya - selalu on line. Mungkin karna ia adalah seorang penulis yang lumayan terkenal, maka dari itu ia harus siap sedia, siapa tau ada fans yang menyapanya. Sebegitunyakah?
Setelah berkali-kali ia menjelaskan dan bertubi-tubi pertanyaan yang ku berikan, akhirnya ia tidak membalas kembali pesanku, aku tau ia pasti kesal *haha* dengan begitu, sekarang aku sendirian menghadapi "bagaimana cara mengirimkan e-mail?"
Seingatku waktu kuliah dulu aku termasuk anak yang paling pintar soal komputer, internet dan sebangsanya. Tapi lihat kini, setelah lama kehilangan kata sandi untuk e-mail ku yang lama, sekarang aku merasa techno - blind a.k.a gaptek menghadapi tampilan dihadapanku yang muncul di layar dengan banyak simbol-simbol gambar disemua sisi, "Ooo Tuhan."
Dengan sabar aku membuka tiap simbol yang ada, dan pada akhirnya menekan simbol "Apps" sejajar foto, dan munculah beberapa simbol. Ku perhatikan dengan seksama, lalu "plak" menepuk jidat. Ini begitu mudah, mengapa tak tercerna oleh otak ku lebih cepat. Ternyata benar istilah "otak bagaikan pisau", jika tidak dipergunakan - diasah - otak akan menjadi tumpul, sama halnya dengan pisau.
Mencoba membalas e-mail sahabatku yang tadi, entah berhasil atau tidak karna ia tidak membalasnya, tapi well aku yakin e-mail nya sampai.
Berawal dari kebaikkan suamiku, yang membelikan paket internet dengan bonus gratis internetan sepuasnya sampai akhir januari, itu berarti sebulan dari hari pembelian dan pengaktifan kartu perdana. Kemudian aku berfikir untuk memanfaatkan modem ini, bukan hanya untuk membuka situs sosial media, lebih dari sekedar itu, tapi apa?
Suamiku berpendapat, "Berkaryalah, wujudkan cita-cita lamamu yang ingin menjadi seorang penulis."
Tidak dapat ku pungkiri memang besar sekali peran suamiku yang selalu memberikan ide-ide cemerlang nya, selain bagaimana ia selalu saja mengkritik masakkanku pada awal usia pernikahan kami. Yaahh pada dasarnya aku memang bukan tukang masak yang handal, mengaku.
Membuka sebuah buku novel hadiah ibu ku beberapa waktu lalu, pada lembar terakhir buku tersebut tercetak bagaimana cara mewujudkan impian ku yang sempat tertunda. Mengirimkan naskah kepada sebuah penerbit yang mungkin saja ada harapan akan diterbitkan oleh mereka, semoga saja.
Mengawali aktifitasku di depan "lenov" - nama panggilan untuk notebook ku - terkadang kita harus memberikan nama untuk beberapa benda. Berniat memulai membuat alamat e-mail baru, akupun membuka situs gmail.com dan mulai mengisi beberapa kolom yang ada dengan beberapa pertanyaan dasar yang biasanya tertera di KTP. Setelah selesai mengunggah foto, "taraaaa" berhasil, gambar sepasang kekasih tertempel nyengir sebagai foto profil. Ini pekerjaan yang sangat mudah, batinku. Sampai kemudian aku sadari, tampilannya membuatku bingung, nah lalu bagaimana cara mengirim e-mail ?
Mengutak atik begitu lama, akhirnya akupun menyerah. Membuka salah satu media sosial ku dan bertanya pada sahabat ku @Ria N Badaria yang - biasanya - selalu on line. Mungkin karna ia adalah seorang penulis yang lumayan terkenal, maka dari itu ia harus siap sedia, siapa tau ada fans yang menyapanya. Sebegitunyakah?
Setelah berkali-kali ia menjelaskan dan bertubi-tubi pertanyaan yang ku berikan, akhirnya ia tidak membalas kembali pesanku, aku tau ia pasti kesal *haha* dengan begitu, sekarang aku sendirian menghadapi "bagaimana cara mengirimkan e-mail?"
Seingatku waktu kuliah dulu aku termasuk anak yang paling pintar soal komputer, internet dan sebangsanya. Tapi lihat kini, setelah lama kehilangan kata sandi untuk e-mail ku yang lama, sekarang aku merasa techno - blind a.k.a gaptek menghadapi tampilan dihadapanku yang muncul di layar dengan banyak simbol-simbol gambar disemua sisi, "Ooo Tuhan."
Dengan sabar aku membuka tiap simbol yang ada, dan pada akhirnya menekan simbol "Apps" sejajar foto, dan munculah beberapa simbol. Ku perhatikan dengan seksama, lalu "plak" menepuk jidat. Ini begitu mudah, mengapa tak tercerna oleh otak ku lebih cepat. Ternyata benar istilah "otak bagaikan pisau", jika tidak dipergunakan - diasah - otak akan menjadi tumpul, sama halnya dengan pisau.
Mencoba membalas e-mail sahabatku yang tadi, entah berhasil atau tidak karna ia tidak membalasnya, tapi well aku yakin e-mail nya sampai.
Langganan:
Komentar (Atom)
