Horree tralala trilili betapa gembiranya saat berhasil mencoba membuat alamat e-mail baru dan berhasil dengan mudah *hehe*, dalam alamat e-mail yang sebelumnya mungkin sudah berapa puluh atau bahkan ratusan kiriman yang terabaikan, dikarenakan "kecerdasan" ku yang luar biasa dalam mengingat hal, sampai-sampai aku melupakan kata sandi untuk membukanya. Pada akhirnya, kini - setelah kurang lebih tujuh tahun berlalu - I have it again, "Yes!"
Berawal dari kebaikkan suamiku, yang membelikan paket internet dengan bonus gratis internetan sepuasnya sampai akhir januari, itu berarti sebulan dari hari pembelian dan pengaktifan kartu perdana. Kemudian aku berfikir untuk memanfaatkan modem ini, bukan hanya untuk membuka situs sosial media, lebih dari sekedar itu, tapi apa?
Suamiku berpendapat, "Berkaryalah, wujudkan cita-cita lamamu yang ingin menjadi seorang penulis."
Tidak dapat ku pungkiri memang besar sekali peran suamiku yang selalu memberikan ide-ide cemerlang nya, selain bagaimana ia selalu saja mengkritik masakkanku pada awal usia pernikahan kami. Yaahh pada dasarnya aku memang bukan tukang masak yang handal, mengaku.
Membuka sebuah buku novel hadiah ibu ku beberapa waktu lalu, pada lembar terakhir buku tersebut tercetak bagaimana cara mewujudkan impian ku yang sempat tertunda. Mengirimkan naskah kepada sebuah penerbit yang mungkin saja ada harapan akan diterbitkan oleh mereka, semoga saja.
Mengawali aktifitasku di depan "lenov" - nama panggilan untuk notebook ku - terkadang kita harus memberikan nama untuk beberapa benda. Berniat memulai membuat alamat e-mail baru, akupun membuka situs gmail.com dan mulai mengisi beberapa kolom yang ada dengan beberapa pertanyaan dasar yang biasanya tertera di KTP. Setelah selesai mengunggah foto, "taraaaa" berhasil, gambar sepasang kekasih tertempel nyengir sebagai foto profil. Ini pekerjaan yang sangat mudah, batinku. Sampai kemudian aku sadari, tampilannya membuatku bingung, nah lalu bagaimana cara mengirim e-mail ?
Mengutak atik begitu lama, akhirnya akupun menyerah. Membuka salah satu media sosial ku dan bertanya pada sahabat ku @Ria N Badaria yang - biasanya - selalu on line. Mungkin karna ia adalah seorang penulis yang lumayan terkenal, maka dari itu ia harus siap sedia, siapa tau ada fans yang menyapanya. Sebegitunyakah?
Setelah berkali-kali ia menjelaskan dan bertubi-tubi pertanyaan yang ku berikan, akhirnya ia tidak membalas kembali pesanku, aku tau ia pasti kesal *haha* dengan begitu, sekarang aku sendirian menghadapi "bagaimana cara mengirimkan e-mail?"
Seingatku waktu kuliah dulu aku termasuk anak yang paling pintar soal komputer, internet dan sebangsanya. Tapi lihat kini, setelah lama kehilangan kata sandi untuk e-mail ku yang lama, sekarang aku merasa techno - blind a.k.a gaptek menghadapi tampilan dihadapanku yang muncul di layar dengan banyak simbol-simbol gambar disemua sisi, "Ooo Tuhan."
Dengan sabar aku membuka tiap simbol yang ada, dan pada akhirnya menekan simbol "Apps" sejajar foto, dan munculah beberapa simbol. Ku perhatikan dengan seksama, lalu "plak" menepuk jidat. Ini begitu mudah, mengapa tak tercerna oleh otak ku lebih cepat. Ternyata benar istilah "otak bagaikan pisau", jika tidak dipergunakan - diasah - otak akan menjadi tumpul, sama halnya dengan pisau.
Mencoba membalas e-mail sahabatku yang tadi, entah berhasil atau tidak karna ia tidak membalasnya, tapi well aku yakin e-mail nya sampai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar